Kisah Si Ponari Dengan Batu Ajaibnya

Ingat penyihir kecil Ponari di Jombang, Jawa Timur? Saat berusia 8 tahun, Ponari menyetrum Indonesia dengan batu ajaibnya pada tahun 2009.Pada saat itu, Ponari, yang masih duduk di kelas empat (SD) sekolah dasar, menonjol karena diyakini bahwa banyak orang dapat mengobati semua jenis batu ajaib. Tidak mengherankan jika orang-orang yang percaya pada kekuatan batu ajaib dari seluruh wilayah berbondong-bondong ke rumah Ponari di desa Kedungsari, desa Balungsari, kabupaten Jegal Megaluh.

Kisah Si Ponari Dengan Batu Ajaibnya

Sembilan tahun yang lalu, ketika Ponari bermain dalam hujan lebat, ia tiba-tiba mendapatkan batu emas. Sejak itu, Ponari sibuk merawat warga sampai mereka punya waktu untuk terus belajar. Ponari juga tiba-tiba menjadi terkenal dan kaya.Berdasarkan hasil merawat pasien dengan batu ajaib, Ponari berhasil membangun rumah mewah. Di masa lalu, rumah orang tua Ponari hanya di tanah, dengan dinding bambu. Selain rumah dengan lantai keramik, Ponari juga memiliki dua hektar sawah dan tanah, serta sepeda motor balap senilai puluhan juta rupee.

Sekarang, pamor batu ajaib Ponari melemah. Jika pasien sebelumnya menelepon rumah Ponari dan harus menginap, sekarang hanya ada beberapa orang yang menerima perawatan. Tidak harus seperti ini setiap hari.

“Seseorang masih datang untuk berobat, tetapi tidak sesibuk dulu. Saat ini, kadang-kadang hanya ada satu orang sehari. Kadang tidak ada sama sekali. Belum tentu,” kata Bonari, Kamis (2/8/2008).Jika tidak ada yang datang untuk perawatan, Ponari mengakui dia akan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, bermain game dan berlatih seni bela diri. “Ketika saya diam, saya bermain game di rumah, dan jibnya kokoh. Dia berkata,” Terkadang teman-teman saya menyegarkan jalan. “

Baca Juga :
Batu Cincin Mistik Quartz
Harga Batu Sungai Dareh Asli Padang Super

Punnari juga mengklaim bahwa ia telah bekerja keras untuk menjadi seorang prajurit sejak ia masih muda. Namun, mimpinya harus dikubur karena dia tidak bisa melanjutkan sekolah. Ponari hanya mencari paket sekarang. “Saya ingin menjadi TNI. Tapi sekolah saya hanya di kelas lima. Saya akan berkemas sekarang,” katanya.Namun, Ponari masih bermimpi menjadi pengusaha. “Saya ingin menjadi pengusaha, tetapi saya masih memikirkan apa yang harus dilakukan,” katanya.

Ibu Ponari dari Mukaromah mengatakan bahwa meskipun tidak seramai sebelumnya, masih ada orang yang menerima perawatan dengan bantuan batu ajaib milik anak sulungnya. “Aku tidak menyalahkannya, hanya dengan tulus,” katanya.Selain batu ajaib ini, orang tua Ponari sekarang hanya menunggu hasil dari anak-anak mereka menyewa sawah untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari mereka. “Hanya mengandalkan sawah. Jika Anda mengatakan itu sudah cukup, itu sudah cukup,” katanya.

Bagi Homsin dan Mukaromakh, Ponari adalah anak yang bangga. Berkat Ponari, kehidupan Homsin dan keluarganya menjadi lebih baik. Itu sebabnya mereka lebih suka apa yang diinginkan Ponari. “Dia (Ponari) membutuhkan sesuatu yang penting, bukan petualangan,” katanya.Tidak hanya untuk keluarga, tetangga Ponari bangga dan bahagia karena mereka membantu perekonomian. “Ya, Ponari sering membantu tetangga. Ana Murvati, tetangga Ponari, mengatakan bahwa Ponari juga membantu membangun masjid dan jalan desa.